banner

Trotoar 'Diharamkan' untuk Sepeda Motor!

Pemandangan ini mungkin sudah tidak asing bagi Anda yang tinggal di pusat perkotaaan. Ratusan kendaraan bermotor dengan asap mengepul dari knalpot menyemut memadati jalanan utama, terutama pada jam-jam masuk dan pulang kerja. Bus, angkot, mobil pribadi, dan sepeda motor berjejal dalam satu kubangan kemacetan.

Kondisi ini tidak bisa ditampik sangat menguji kesabaran pengendara. Seringkali mereka yang tidak memilikinya kemudian melakukan tindakan-tindakan nekat yang sebenarnya bisa membahayakan pengguna jalan lain.

Salah satunya, menggunakan trotoar sebagai jalur alternatif. Ironisnya, hal yang sering dilakukan pengendara motor itu mulai dianggap hal lumrah, tidak hanya bagi pengguna jalan lain tapi juga para polisi lalu lintas.

Padahal trotoar merupakan hak pejalan kaki yang disediakan untuk melindungi mereka dari bahaya yang mengancam keselamatan.  Pemerintah sudah jelas mengatur hal itu dalam Undang – Undang no 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pada pasal 131 ayat satu disebutkan bahwa pejalan kaki berhak atas ketersediaan fasilitas pendukung, salah satunya trotoar.

Melanggar hak tersebut juga bisa dikenai sanksi. Pada pasal 284 dalam undang-undang yang sama disebutkan "Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dengan tidak mengutamakan keselamatan pejalan kaki atau pesepeda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).”

Kemudian pada UU No 38 Tahun 2004 dan PP No 34 Tahun 2006 memberikan keterangan denda sebesar 1,5 miliar atau penjara selama 18 bulan untuk siapapun yang sengaja melakukan kegiatan yang mengakibatkan terganggunya fungsi jalan dan trotoar.

Pada praktiknya peraturan-peraturan ini seolah masih dianggap remeh. Atau celakanya, kemungkinan belum banyak diketahui oleh pengendara motor juga pengguna jalan.

Trotoar jelas ‘diharamkan’ untuk dilalui sepeda motor. Selain dapat membahayakan pejalan kaki, tindakan itu bisa berujung pada menurunnya minat masyarakat untuk berjalan kaki. Padahal jalan kaki merupakan salah satu cara berpergian paling menyehatkan dan besar kontribusinya dalam mengurangi polusi kendaraan.